Kamis, 26 Februari 2015

Keakraban Kala Di Wedangan


Wedangan adalah salah satu ikon yang tak bisa lepas dari kota solo. Sebutan Wedangan, atau angkringan, atau hik-hikan, merujuk pada sebuah aktifitas berjualan di malam hari pada sebuah tempat/lokasi. Yang dijual di tempat itu adalah makanan dan minuman (wedang) semisal; wedang jahe, teh, wedang jeruk, makanan ringan berupa tempe goreng, jadah, aneka sate, keripik, lentho, dan aneka makanan olahan lainnya.


Akan tetapi yang paling khas dan dapat ditemui di hampir semua wedangan adalah nasi kucing (nasi bungkus), biasanya disediakan dalam satu porsi kecil. Seiring perkembangan waktu, jumlah penjual wedangan di kota solo semakin bertambah, cara penyajian pun semakin beragam.
Demikian juga pembeli yang berasal dari beragam kalangan mempunyai banyak pilihan wedangan. Kadangkala pembeli mendatangi wedangan bukan saja bertujuan untuk menikmati makanan yang disajikan saja, tapi juga sekaligus mencari suasana berbeda untuk sekedar hang out, mengobrol dengan teman akrab, menikmati suasana kota di malam hari. Demikianlah, wedangan berkembang dari sekedar menjual makanan dan minuman, kemudian juga berusaha menjual suasana. 
Di wedangan ini kita juga bakal gak asing denger nama-nama hewan yang diucapin sama orang-orang yang jajan di situ, mbuh kui asu, jangkrik dan yang lainnya karena yang mendekatkan person to person-nya justru malah di situ. Intine aja gampang sensi, aja gampang lara ati. 
Dan perlu kita garis bawahi, satu-satunya bakul yang seneng ditemenin sampai pagi ya cuma bakul wedangan. Saya sih agak ndak sreg ya waktu presiden baru kita, pak Jokowi itu bilangnya kerja, kerja, kerja. lha terus wedangannya kapan, pak? Tapi ndak papa sih, yang penting di balik ini semua kita sekalian tidak lupa sama budaya srawung. Karena tempat yang bener-bener mewarisi budaya srawung selain arisan, kumpul RT, ya cuma di wedangan. 

1 komentar:

  1. Wah jadi kangen wedangan nich...

    Salam buat bapak2 smua ya pak...

    (Dimas - Panorama Indah No. 13-15)

    BalasHapus